Hallo guys, terimakasih ya udah mampir ke blog aku ^_^

Jumat, 26 Juni 2015

Membiasakan Diri Tanpamu

Jum'at, 26 Juni 2015.
Well, 15 hari sudah perpisahan kita.
Kuawali hari dengan mencoba membiasakan diri agar tidak mengecek ponsel seusai bangun tidur. Aku bersyukur masih diberi nafas hingga sekarang. Aku berterima kasih karena hari-hariku masih menyenangkan untuk dijalani, meskipun tanpamu, rasanya memang semua berbeda. Ya meskipun kita tak pernah sering ketemu, hanya bisa ngobrol melalui BBM tapi semua berpengaruh besar dalam hidupku.
Aku tak tahu apakah semua yang kamu rasakan benar cinta atau hanya iseng belaka dulu. Yang jelas, kamu berhasil membuatku jatuh cinta, dan berhasil membuatku menangis, bimbang, kacau dan stres ketika kamu mengakhiri hubungan ini tanpa kejelasan.
Hubungan yang berakhir tanpa kejelasan tidak pernah sebahagia hubungan yang berakhir karena adanya alasan dan penjelasan. Namun, tidak dapat dipungkiri, perpisahan yang beralasan ataupun tidak beralasan sama-sama menimbulkan rasa sakit yang sama. 
Aku tidak tahu, semua orang merasa kasihan padaku karena ditinggalkan olehmu, padahal selama ini yang aku rasakan adalah kita memang ada dalam satu titik dimana keduanya harus saling melepaskan. Tak ada yang meninggalkan lebih dulu, hanya saja kamu tidak cukup kuat untuk berjuang lebih keras lagi, makanya kamu memilih menyerah dan melepaskanku.
Berat rasanya harus menerima kenyataan bahwa kamu tidak lagi menyapaku lewat chat setiap hari, berat rasanya harus membiasakan diri tidak lagi mendengar suaramu melalui telepon diwaktu luang kita.
Kamu tidak akan pernah mengerti ini semua, kalaupun kamu mengerti dan membaca ini, tentu kamu akan tertawa sangat kencang, menganggap semua berlebihan, kemudian mengabaikan diriku. Kalau boleh jujur, aku sangat sedih. Entah mengapa setiap hal yang aku lakukan selalu membuatku mengingat sosokmu. Padahal aku tak ingin seperti itu. Aku ingin melupakanmu dan membuangmu jauh-jauh dari pikiranku.
Tapi aku selalu rindu kamu dan selalu ingin tahu kabarmu, aku berusaha melawan perasaan itu agar aku bisa cepat melupakanmu, kemudian menjalani hari-hariku senormal mungkin.
Tiga bulan lamanya kita pernah bersama, mungkin di mata banyak orang terlalu sebentar, namun hanya aku dan kamu yang tahu bagaimana kita punya kedekatan yang lebih. Aku berterima kasih padamu untuk tiga bulan yang berkesan bagiku.
Kamu tak akan tahu sakitnya ditinggalkan saat sedang cinta-cintanya, mungkin sosok keras kepala sepertimu hanya merasa ini biasa saja dan kamu pikir aku tak pernah terluka karena sikapmu. Kamu salah besar, lukaku sudah cukup dalam, dan luka ini akan jadi tabungan karmamu. Kamu tinggal menunggu waktu, saat ada seorang wanita lain memberimu sakit hati yang sama, seperti kamu dengan mudahnya membuangku seperti sampah.
Aku cukup berada di sini. Jadi penonton dari jauh dan tinggal menunggu kabarmu. Aku tidak akan mengotori tanganku dengan melakukan balas dendam, karena aku tahu balasan dari Tuhan akan jauh lebih menyadarkanmu kelak. Kesedihanku cukup sampai disini.
Tiga bulan ini, kamu mengurungku dalam hubungan yang aku pikir cinta. Kamu sangat tahu bahwa aku bisa sangat baik pada pria yang aku cintai, tapi kamu melakukan hal menyakitkan ini. Apakah aku pernah membuatmu sakit dan berbuat kesalahan padamu? Aku rasa aku belum pernah menyakitimu, apakah ini balasan atas sikapku? Aku selalu berusaha hati-hati dengan hubungan kita agar tidak berakhir sia-sia, tapi kamu? Tidak. Kamu lebih ingin menyerah dan mengakhiri semua.
Sekarang, kamu tidak menyesali kepergianku, tapi bisa aku jamin beberapa bulan atau tahun kemudian, kamu adalah orang yang merasa paling menyesal karena melepaskanku begitu saja. Ingatlah satu hal ini, apa yang kamu perbuat menjadi apa yang kamu tuai. Jika kamu telah menyakitiku, tentu suatu saat kamu juga akan menuai rasa sakit yang sama. Mungkin saat itu kamu baru menyadari, betapa meninggalkanku adalah kebodohan yang harusnya tak kamu lakukan. Namun jika tak ada penyesalan seperti itu, mungkin memang inilah takdirnya. Satu hal yang pasti, jangan pernah menyia-nyiakan orang yang sangat tulus menerima kamu apa adanya dan mencintaimu sepenuhnya. Mungkin di luar sana memang ada yang lebih dari dia, lebih sempurna, lebih segalanya. Namun setidaknya kamu harus bisa menghargai perasaan dia, dimana dia sudah berusaha menjadi yang terbaik untukmu. Kebodohan besar jika kamu menyia-nyiakan orang seperti itu lagi.

Terima kasih untuk tiga bulan yang berkesan, menyenangkan, sekaligus menciptakan kesedihan. Terima kasih untuk peluk dan kenangan yang sempat membuatku percaya bahwa ini semua cinta sejati. Terima kasih pernah membuatku tertawa walau sesaat. Terima kasih untuk segala hal yang bisa membuatku cukup bahagia.

Aku marah, tidak mungkin jika manusia tidak marah jika ditinggalkan begitu saja. Tapi, percayalah, aku akan selalu mengingatmu sebagai bahan pembelajaran bahwa aku tak akan melakukan kesalahan yang sama.
Pelan-pelan aku bisa mengikhlaskan semua. Pelan-pelan aku akan menganggap perpisahan ini adalah wujud Tuhan mencintaiku dan tak ingin mempertemukanku dengan orang yang salah sepertimu. Pelan-pelan, kenangan tentangmu akan terkubur dan tergantikan dengan peristiwa yang lebih bahagia.
Pelan-pelan, ketika mendengar namamu, aku tak akan lagi merasa terluka.

Sekian... 

thanks to Dwitasari untuk untaian kata yang membuatku bisa merasa lebih tenang dan bahagia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih Sudah Berkunjung