Hallo guys, terimakasih ya udah mampir ke blog aku ^_^

Jumat, 12 Juni 2015

Pada Akhirnya

Pada akhirnya Kamis malam terucaplah kata perpisahan itu.
Hari ini Jum'at, 12 Juni 2015 sesaat semalam kita putuskan untuk menjalani sendiri-sendiri entah apa yang aku rasakan aku bingung, tak tau apa yang ada di otakku.
Aku sudah berusaha untuk memberikan yang terbaik semampuku, menjadi seorang penyabar sekuat kubisa, berpikiran positif tentang semua yang sebenarnya buatku tak tenang. Jika ini hasil dari apa yang telah kuperjuangkan selama ini, hingga kini kutemukan lelahku yang selelahlelahnya, kukan beranjak pergi meninggalkan semua karena kutau setiap hal pasti ada masanya.
Mungkin seperti itu kini, entah kesalahan apa yang ada hingga pada akhirnya menjadi seperti ini. Lelah, mungkin sudah lelah dan memang belum bisa move on hingga ketika bersama mungkin hanya sebagai selingan sementara saja.
Menyesal? Sedikit. Tentu ada rasa seperti itu. Yang awalnya hanya berteman biasa hingga menjadi sangat akrab dan seperti serius akan menikah diperkenalkan di keluarga dan sebagaimana semuanya.
Ketika sudah dapat menerima apa adanya, yang ada semua sirna. Nggak sakit hati atau apalah itu, hanya saja merasa menyesal dengan semua yang terjadi. Yang seharusnya tak seperti itu. Mungkin ini doa dari teman-teman yang ga suka atau ga setuju dengan hubungan ini. Yang banyak orang heran saat aku jalanin hari dengan dia. Banyak yang bilang gak pantas, tapi aku abaikan semua itu. Banyak yang bilang harusnya aku mencari pendamping yang kwalitasnya sama denganku. Berpendidikan, baik-baik, dan rajin beribadah. Sedangkan yang aku pilih kemarin berbanding terbalik dengan apa yang teman-temanku sarankan. Namun yaaa apalah dikata, cinta dan kenyamanan mengalahkan logika seperti itu, ku pilih dirinya dengan tulus tak melihat siapa dia. Siapa dia dimata teman-temanku, aku melihat dari sisi yang berbeda karena rasa yang ada.
Dari sinilah aku berpikir, tak perlu patah hati. Kamu siapa, dia siapa.
Motivasi dari sahabat semua yang membuatku bisa seperti sekarang, merasa biasa saja dan hanya ketawa saat tahu alasan terbodohnya ingin sendiri. 

Rabu, 03 Juni 2015

Aku Tak Peduli

I love U my Ardy Chandra Kusuma
Aku tidak peduli pada cemooh teman-temanku tentangmu. Tak ingin tahu penilaian mereka tentangmu. Mereka bilang kamu tak baik, nakal, perokok, bodoh, dan seorang pemalas. Aku tak mau tahu karena aku tak melihatmu dari segala sisi itu, kamu sempurna di mataku, kesempurnaan yang mungkin hanya bisa ku baca dan ku rasa ketika kita bersama.
Aku tidak peduli pada perkataan orang-orang sekitarku bahwa kita tak akan mungkin bersama. Aku hanya bisa menjawab segala cacian itu dengan senyum dan berkata "Biarkan kami yang menjalani semua. Kami yang tahu apa yang kami jalani, karna ini hidup kami. Dan masa bodoh tentang dia yang dulu." Dan, ketika kujawab seperti itu, mereka hanya diam, mungkin dalam hati mereka mengataiku aku wanita bodoh. Aku tak merasakan keburukan itu, bersamamu kurasakan kebahagiaan yang tak bisa kujelaskan, kebahagiaan yang tak akan pernah mereka pahami.
Aku tidak peduli pada jarak ini. Aku tahu kamu tak di sampingku, tak bersamaku, tapi kita seakan tak berjarak.
Ketika pertama kali bertemu denganmu, kemudian menatap matamu, mengetahui dirimu secara langsung, dan kedekatan kita yang dimulai dari hal sederhana melalui BBM, semua ketidaksengajaan itu berlanjut pada percakapaan intens yang membuatku takut kehilanganmu. Ketika semua berawal dari hal sederhana itu, aku tahu semua akan berlanjut dan mungkin akan ada akhir yang pasti.
Namun semakin lama sepertinya kamu berubah, entah ini hanya perasaanku saja atau ini emang yang terjadi.
Tapi aku tidak peduli pada perubahan sikapmu yang semakin sulit ku toleransi. Kamu yang selalu hilang ketika ku butuhkan, kamu yang menjawab pesan singkatku dengan jumlah pesan yang bisa dihitung jemari, kamu yang selalu sibuk dengan kerjamu, yang pulang malam tapi aku masih bisa mengerti semua itu.

Tak apalah kalau memang seperti ini yang harus kita jalani.
Kita jalani saja apa adanya, biarlah mengalir seperti ini hingga tiba waktunya nanti kita bersama, duduk berdua tanpa adanya jarak yang memisahkan kita.

Selasa, 02 Juni 2015

Seusai Pertengkaran Kita (Ku tunggu kamu di Tulungagung)

Jarak takkan pernah jadi halangan untuk cinta kita

Sayang, aku nulis ini dalam note HP ku yang selalu tersimpan, lebih tapatnya ku tulis ini ketika pertengkaran kita entah yang keberapa. Masalahnya sepele dan selalu sepele, selalu aku yang lebih dulu tersentak dan tersentuh. Aku tak tahan lagi dengan jarak yang menjauhkan kita, dengan rasa sakit yang tak kamu pahami, dengan ribuan hasutan banyak orang agar tidak mempercayaimu lagi, dengan sedikit waktu yang kamu miliki untukku, dengan perbedaan kita.
Aku tak tahu Sayang, apakah yang aku pikirkan untuk mencurigaimu adalah hal yang benar atau hal yang salah. Mungkin, aku merasa terlalu tolol dan bodoh karena selalu menganggap kamu mencintaiku. 
Lihatlah dirimu. Kamu tampan, muda, punya segalanya, sudah bekerja, dipuja banyak wanita. Sedangkan aku, siapa aku di matamu. Aku ini terlalu kecil, terlalu bodoh, tidak cantik, aku hanya seorang gadis semester delapan yang sedang memperjuangkan tugas akhir untuk bisa wisuda di tahun ini, di jurusan kuliah yang banyak orang mengira diriku pandai padahal di otak ini ada banyak hal yang kurang diketahui, aku kalah cantik dengan wanita-wanita yang pernah ada dalam hidupmu. Aku tetap merasa bukan siapa-siapa dihidupmu.
Aku lelah pada setiap percakapan yang hanya bisa kita jalin lewat pesan singkat dan telepon. Aku lelah dengan cerita tentangmu disana, mungkin bukan lelah lebih tepatnya cemburu dengan orang-orang yang ada disekitarmu disana bisa berbicara dan melihatmu, bercanda tawa langsung denganmu sedangkan aku tidak bisa. Aku lelah menerima kenyataan bahwa aku sangat sulit masuk ke dalam duniamu. Aku sedih mengetahui hal yang sebenarnya bahwa mungkin saja kita tak benar-benar mencintai, mungkin saja aku dan kamu hanya terjebak dalam ketertarikan sesaat, ketertarikan tolol yang selama ini kita deskripsikan sebagai cinta. Aku tak tahu Sayang, aku sungguh tak tahu apa maksud dan tujuanmu untuk mendekatiku dulu kala. Masa iya sih, pria seperti kamu mau saja dengan gadis biasa seperti aku?
Sayangku, apakah kamu tidak lelah dengan jarak dan perbedaan ini? Dengan amarah dan emosiku yang naik turun setiap kali kita menjalin percakapan di telepon atau bbm, dengan setiap air mataku yang terjatuh. Kita yang jarang bertemu dan tak pernah saling bertatap mata, tak pernah terlihat seperti pasangan normal lainnya.
Waktu kita memang hanya ada saat-saat tertentu, saat aku dan kamu berusaha tidak menyibukkan diri, dan kita sama-sama berbicara tentang mimpi yang kita harapkan segera menjadi nyata. Kamu selalu sibuk bekerja disana. Kamu selalu memintaku untuk bersabar menunggu, untuk setia menyimpan rindu, sampai ALLAH mengizinkan kita bertemu.
Kamu selalu memintaku untuk bersabar menunggumu di Tulungagung, karena kamu akan pulang, membawa banyak kenyataan yang dulunya hanya bisa kita bicarakan lewat telepon, membawa pelukan, kecupan, rangkulan, dan membalas dendam pada jarak yang selama ini menghalami pertemuan kita.

Oke ini saja, kutunggu kamu di Tulungagung sayang.

Pulanglah lebih cepat.
Aku merindukanmu sayang.
😊
(Suka marah hanya sedang rindu, terlalu kangen dan ingin diperhatikan lebih, aku harap kamu mengerti)

Kamu, iya kamu yang selalu aku tulis.
Kala jemari tangan kita saling bertautan, aku rindu masa itu.


Jumat, 24 April 2015

I'm OK

Kala kita bersama, semua terasa istimewa

Tenang... tenang...
I'm OK...
Ini hanya perasaan sementara saja.
Amarah yang sementara sedang menguasai fikiran.

Ma'afkan kali ini aku harus tutupi.
Ku rasa kamu tak perlu tau bahwa ku sedih.
Aku hanya bisa tersenyum diam tanpa kata.
Sejujurnya aku hancur.
Tapi ma'af, aku tak mampu tuk jujur padamu.
Dan bila aku harus mengakhiri semua ini, sesungguhnya aku tak kan rela.
Biarlah sedih ini kuletakkan dibenakku.

Entah apa yang ku rasain saat tau hal itu.
Kaget, syok, heran, sakit dan apalah-apalah itu.
Bukan marah, hanya saja kecewa. Iya kecewa banget, sampai ngga'bisa berkata-kata apalagi.
Ngga'menyalahkan masa lalu juga karena semua itu sudah berlalu.
Mungkin bagi sebagian orang itu hanya hal yang biasa saja.
Tapi bagiku itu bukan hal yang biasa.

Keterbukaan itu awalnya memang menyakitkan, tapi saat diungkapkan dan saling memaafkan kedepannya akan lebih menyenangkan tanpa ganjalan.
Sakit memang, kecewa. Tapi inilah resiko dari keKEPOanku sendiri.
Tak seharusnya dan tak semestinya tau hal-hal yang menyakitkan itu.
Masa lalu memang hanya masa lalu.
Tapi semua itu nggak akan pernah bisa hilang gitu aja.
Selalu ada sisa-sisa kenangan yang masih tersimpan, meskipun tanpa disadari.

Kalau seandainya bisa memilih dan tau sejak awal, mungkin ga akan sejauh ini dan seperti ini.
Seandainya semua belum terjadi aku tau apa yang harus aku lakukan.
Tapi semua ini sudah terjadi dan menjadi pilihanku dan jalanku.
Menyesal??? Tidak, semua sudah terjadi.
Harus terima resiko apapun itu.
Ikhlas??? Ngga'semudah itu.
Selalu ada perasaan ngga' enak lagi dan lagi.
Tapi sekarang mencoba untuk ikhlas dan tak memikirkan hal yang memyakitkan lagi.
Toh itu ga penting juga, cuma bikin ngeganjal dihati dan bikin benci orang yang aku sayangi.
Merusak pikiran dan hati diri sendiri.
Mending sekarang mikir bagaimana bisa bahagia terus dengan apa yang sudah dijalani dan dipilih.

Inilah hidup, kadang keingintahuan membuat kita kecewa, namun itulah resiko yang harus diterima.

Kamis, 09 April 2015

Dear yang tersayang

Ma'af, aku hanya begini adanya

Dear Mas Ardy...
Maaf ya, aku tak bisa menjanjikan kecantikan seperti mereka.
Seperti wanita-wanita yang pernah kamu kenal, mantan-mantan kamu, wanita-wanita yang pernah ada dalam hidupmu.
Terimakasih karna sudah memilih aku yang hanya bisa menunjukkan wajah biasa saja, dengan alis dan bulu mata yang InsyaAllah tak akan pernah luntur walau sudah berulang kali berwudhu.

Ma'afkan aku yang tidak cantik.
Aku bukan siapa-siapa.
Aku cuma wanita yang mempunyai wajah sederhana, biasa dan tak menawan.
Aku juga bukanlah wanita manis.
Aku bukan wanita kaya, aku hanyalah wanita biasa saja, tak punya apa-apa.
Aku bukan wanita yang bertahta yang mempunyai kedudukan.

Ma'afkan aku tidak sempurna.
Ma'af, aku tidak secantik wanita yang lain.
Ma'af, aku mempunyai wajah biasa, tidak cantik jelita, tidak mempesona.
Ma'af, aku bukan wanita berkedudukan.
Ma'af, aku bukan wanita yang cerdas.
Ma'af, aku bukan wanita sholeh yang kamu inginkan.
Ma'af, aku bukan wanita berakhlak baik.

Aku malu...
Tak ada yang baik didiriku.
Hanya keburukan yang ada di diriku.
Tak ada yang bisa dibanggakan didiriku.

Tetaplah bersamaku...
Tetaplah bimbing aku...
Agar aku menjadi wanita sempurna dimatamu.
Calon istri yang kamu inginkan.
Aku ingin menjadi makmummu.
Aku akan mengabdi kepadamu kelak, disaat engkau akan menjadi suamiku.
Aku akan menjadi wanita yang berbakti kepadamu.
Ingatkan aku saat lupa akan beribadah, diriku selalu khilaf.
Aku yang masih suka bertutur kata tak baik, dan sangat egois.

Ayoooo kamu, iya kamu, kamu yang aku sayang, dan cinta yang tulus dengan hati yang ikhlas.
Bantu aku untuk memperbaiki diriku yang tak sempurna ini.
Bantu aku untuk jadi makmummu yang lebih baik lagi.

Inilah aku apa adanya.
Yang banyak kekurangan.
Aku ingin dibimbing olehmu calon suamiku, calon imamku, calon ayah dari anak-anakku.
Aku ingin menjadi wanita sholeh yang berakhlak mulia dihadapan Allah, keluarga dan kamu.
Aku ingin menjadi makmummu yang baik.                              

Aku ingin selalu menjagamu, bersamamu, mengabdi kepadamu, menyayangimu dengan tulus hati yang ikhlas.

Tetaplah bersamaku, karna kamu adalah pelengkap hidupku, yang membuat hidupku lebih berwarna dan membuatku kembali ceria setiap bersamamu.
My Ardy Chandra Kusuma

Senin, 19 Januari 2015

Tak boleh mengulang kesalahan yang sama

Terkadang ada hal yg perlu kita ceritakan ke orang lain dan ada juga hal yg perlu kita simpan sendiri. Bukan untuk dibagi, hanya saja untuk menjaga hati kita sendiri.
Terkadang sering sedih saat ada yg bilang "kok ga cari pacar, masih trauma ya... masih belum move on ya..." jawabannya bukan, bukan karena itu.
Hanya saja setelah sakit hati, terpuruk, jatuh sedalam-dalamnya apa kita tidak butuh waktu untuk menyiapkan hati kembali. Setelah kejadian itu apa kita tak berhati-hati untuk membuka hati untuk yang lainnya. Apa kita harus mengulang kesalahan yg sama kembali setelah tau rasanya sakit itu.

Senin, 04 Agustus 2014

yang istimewa akan kalah dengan yang selalu ada

Pada akhirnya, yang istemewa akan kalah dengan yang selalu ada. Kalimat itu bener-bener ngebuka pikiran aku. Kadang aku terlalu terpaku sama yang lebih istimewa. Aku terlalu banyak melakukan hal untuk mempertahan si istemewa itu, karna aku pikir dia perfect. Tapi aku lupa, ada sosok yang selalu bantu aku di saat aku butuh bantuan, yang gak pernah bosan dengar ceritaku, curahanku, yang selalu nenangin aku saat marah, yang jadi sandaranku saat nangis, dan yang selalu betah di dekat aku. Yaaaa, dia yang selalu ada. Aku ga pernah kepikiran apa yang terjadi jika yg istemewa ini ninggalin aku. Aku pasti bakal sedih, nangis, aku jadi ga karuan dan bercerita semuanya dengan sosok yang selalu ada buat aku. Siapa yang bakal peduli dengan aku saat kondisiku seperti itu? siapa yang lagi-lagi harus menghapus air mataku yang nyaris kering karna seseorang yang sebelumnya ku anggap istimewa dan sangat berati? 
Yang selalu ada kembali di saat aku benar-benar sedih dan sangat membutuhkannya. Karna yang selalu ada untukku pun gak sanggup lebih lama lagi buat jauh dari aku dan membiarkan aku begitu terputuk karna sosok yang selama ini menutupi seberapa penting keberadaannya. Semenjak itu yang selalu ada untuk ku, juga menjadi yang paliiiiing istimewa dalam hidupku. Dan ini lah akhirnya. Yang istimewa telah kalah dan tergantikan dengan yang selalu ada.

aku, kamu, dia

Banyak kenangan indah saat ku bersamamu. Banyak hal yang sudah kita lalui bersama. Namun akupun juga tahu, kamu lelah denganku. Aku tahu semua kesalahanku. Tapi aku tak percaya apa yang kita perjuangkan akhirnya berakhir sia-sia. 

Jalan hidupnya mungkin begini, aku denganmu dan dia orang yang selalu ada untukku mulai hadir kembali dan mengisi hati ini lagi. Namun hanya untuk pemberi semangat' bukan untuk jadi sandaranku. Adanya dia dulu membuatku lebih baik dan semangat menjalani hari-hariku. Hingga dia merasa hanya dijadikan pelarian saja, karena dia tahu saat aku ada masalah denganmu aku selalu lari ke dia..

Cerita Hidup

Ketika apa yang kita harapkan tak bisa jadi kenyataan rasanya hancur hati ini. Ketika apa yang sudah diperjuangkan bertahun-tahun harus berakhir dengan sia-sia. Yah mungkin inilah takdir yang harus dilalui agar aku bisa lebih dewasa lagi menjalani hidup. Karena keegoisan dan amarah yang sementara akhirnya hubungan yang sudah 3 tahun dijalin berakhir begitu saja. Suka duka yang sudah dijalin selama itu hilang begitu saja. Mungkin inilah yang terbaik bagi kami, terutama bagiku. Apa yang sudah dia berikan selama kami bersama sudah cukup membuatku bahagia.

Ketika 2 keluarga sudah sangat akrab, dan yang ada sekarang menjadi seperti sebuah keluarga. Tanpa dendam dan masih berteman dengan baik. Baru kali ini punya mantan yang keluarganya masih sangat baik kepadaku, masih sangat akrab dan masih menjalin silaturahmi. Lebaran saling main ke rumah masing-masing. Saat aku tahu dan diberi cerita banyak, saat itu pula aku sadar mungkin dia memang bukanlah orang yang tepat bagiku.
Mungkin benar apa kata tantenya, aku terlalu serius dan tegas, makanya tidak cocok dengan keponakannya itu yang belum bisa berfikir dewasa, sedangkan aku terlalu baik untuknya. Dia belum bisa mikir masa depan. Dan hanya suka main-main. Mungkin emang bener apa yang dikatakan tantenya, kalo dia itu emang pantes dan cocok kalau hanya dijadikan sebagai pacar, tetapi belum pantas kalo dipilih menjadi seorang suami. Sedangkan yang aku cari adalah seorang suami, pendamping hidup selamanya.

Dengan pertemuan kemarin, aku mnjadi lega. Lega banget rasanya. Udah ga ada beban lagi. Kesalahanku yang terlalu banyak begitu juga dia. Saat iniaku bebas memilih siapa yang pantas akan ku jadikan suami nantinya. Tidak seperti dulu yang masih terbatas karena hubungan pacaran jarak jauh dengannya. Apalagi aku sering memikirkan masa depan jika menikah dengan dia. Karena aku tahu dia boros, belum cocok untuk diajak ke hal yang lebih serius. Itulah yang sering membuat kami bertngkar dahulu, masalah terkait masa depan. Karena aku sendiri mahasiswa sedangkan dia masih bekerja kontrak. Tapi sekarang hal tersebut tak perlu ku takutkan lagi.

Seperti apa yang tantenya bilang, harusnya aku mencari orang yang lebih dewasa, dewasa bukan dari umur namun dari sifat dan sikapnya. Karna aku sendiri terkadang masih labil. Jadi untuk sekarang akan ku pilih bener-bener ku pilih siapa yang pantas mendampingi aku nanti. Tak seperti saat SMA dulu yang belum terlalu mikir masa depan. 
Ohya untuk dia yang sekarang sudah bersama wanita itu, ku harap kalian tak berpisah dan bisa bersama selamanya. Karena aku tahu cowok itu masih mencintaiku namun tak bisa meninggalkamu sist. SMS-SMS yang dia kirim ke aku sempat aku screenshot namun buat apa, aku tak mau menghancukan hubungan kalian. So semua itu cukup aku dan dia yang tahu.

Untuk dijadikan pacar, diajak main-main, jalan-jalan, ke mall, makan-makan dia emang cocok dan pantas. Namun satu hal yang aku pelajari dan ku sadari disini, untuk dijadikan ayah untuk anak-anakku dia belum pantas.

Aku dan hidupku, cukup dengan bersyukur rasa baghagia itu akan muncul. Saat inbi aku masih sedang mengindahkan budi pekertiku dan juga imanku agar mendapatkan imam yang terbaik dariNYA. 

YANG LALU BIARLAH BERLALU DAN CUKUP DIJADIKAN KENANGAN YANG TAK PERLU DILUPAPAKAN ATAUPUN DI INGAT-INGAT. CUKUP DIAMBIL PELAJARANNYA SAJA :) 

Aku yakin, aku akan jauh lebih bahagia jika tanpanya....


dalam hati yang penuh syukur
4-8-14

Minggu, 01 Desember 2013

PERCAYA

Tak pernahku duga aku bisa mengenalnya.
Dan tak pernah ku duga ku bisa bersamanya.
Apalagi bisa menjadi pacarnya.
Tak ku duga pula bisa selama ini.
Ya, selama ini dan dalam jarak yang tak dekat.
Mungkin ini adalah rencana Tuhan yang luar biasa.
Rencana indah yang tak ku duga.

Dia taburkan benih kebahagian untukku.
Dia datang saat ku butuh seseorang yang bisa memelukku.
Karena luka yang pernah menghapiriku.
Dia selalu hadir dalam hatiku
Hanya dia yang mengerti aku

Dengan jarak ku dengan dia yang jauh.
Tak menyurutkan rasa sayangku padanya.
Begitu banyak yang bertanya.
"Apa bisa pacaran jarak jauh?"
"Kamu percaya pada dia?"
"Dia ga bakal selingkuh?"
"Dia ga akan tinggalin kamu?"

Ya,,,, ku jawab.
"Aku percaya pada dia."
"Dan aku akan selalu percaya pada dia"
Ya, itu saja.

Dan ku percaya pada waktunya nanti
Aku dan dia akan hidup bahagia.
Bersama untuk selamanya.
Meskipun kini kita tak lagi bersama.