Hallo guys, terimakasih ya udah mampir ke blog aku ^_^

Senin, 22 Juni 2015

Tak Ada Orang Yang Baik-Baik Saja Setelah Kehilangan

Senin, 22 Juni 2015. Tepatnya 11 hari setelah perpisahan kita.
Entahlah apa yang aku rasain sekarang ini, aku tak mengerti. Bingung sendiri rasanya, senang ataupun sedih aku tak tahu.

Belum hilang sama sekali. Bila ada kata diatas rasa sakit yang dapat menggambarkan perasaanku saat ini, mungkin bisa kugunakan untuk sekedar menceritakan seberapa terpuruknya aku setelah kehilangan kamu.

Aku yang sebelumnya seorang wanita single yang penuh happy bersama sahabat karena telah lama sendiri kehilangan sosok idaman hati yang kurang lebih 3 tahun menemani. Mencoba berbahagia sendiri tanpa kekasih hati selama 1 tahun lebih untuk mengobati rasa sakit dihati karena telah dikhianati. Dan saat rasa sakit dihati mulai hilang, kamu datang dengan sejuta harapan yang ingin menjalani hubungan serius itu. Hingga aku merasa percaya dan terbuai oleh untaian kata manismu.

Tahukah kamu hai seseorang yang sebelumnya datang dengan segala kebaikan kemudian menghilang tanpa meninggalkan sedikitpun perasaan. Bahwa tak ada seorangpun yang akan baik-baik saja setelah kehilangan dia yang sebelumnya menjadi tempat hatinya percaya. Begitupun aku.
Sekalipun kamu sendiri tahu aku bukanlah wanita lemah yang mudah menyerah, tapi ketika kenyataan membawaku pada luka yang dalam atas perpisahan kita aku benar-benar tidak baik-baik saja. Aku hancur, aku jatuh, aku sakit.
Tahukah kamu gimana terpuruknya aku sesaat perpisahan kita? Aku lemah tak berdaya, aku seperti orang kehilangan akal, makan tak bisa, namun yang kutahu hanya Allah, hanya selalu berdoa, sholat, berdzikir sepanjang waktu mengurung diri dikamar. Ribuan doa terlantun melalui mulut dan hatiku, berharap Allah adil dengan kenyataan ini. Dan memberimu sedikit pelajaran berharga bahwa hati ada bukan untuk kamu siksa, bukan untuk dipermainkan, bukan untuk disakiti, dijatuhkan dan dihancurkan.

Seandainya waktu dapat diputar ulang, aku tak kan pernah seromantis waktu bersamamu, takkan berbuat apa-apa untuk selalu menghiburmu. Aku juga tidak mau mengenalmu dan dipertemukan denganmu. Aku akan lebih memilih untuk menghindarimu saat hari dimana pertama kali kamu memperkenalkan diri padaku. 

Kamu harus tahu, betapa sulitnya aku mencoba bangkit dari keterpurukan dan mengumpulkan serta menata kembali kebahagiaanku dari awal. Mencoba percaya lagi pada diri sendiri bahwa aku bisa tanpamu. Memulihkan harapan yang sempat mati selepas aku tak lagi dapat berkirim pesan denganmu. Berusaha untuk sibuk-sesibuknya hingga akhirnya aku bisa lupa bahwa aku pernah lebih sibuk mempertahankanmu daripada membahagiakan diriku sendiri. Sungguh itu sulit, sangat sulit. Padahal aku tahu sendiri, kamu tetap baik-baik saja setelah perpisahan kita. Bahkan kamu masih bisa selalu tertawa dan asyik dengan teman-temanmu. Atau bahkan tak pernah merasa kehilangan sebesar rasa kehilanganku. Padahal awalnya bukan aku yang ingin berusaha memilikimu, bahkan aku tak ada keinginan untuk mengenalmu lebih jauh waktu itu.

Sekalipun kini aku belum benar-benar pulih, kupastikan padamu bahwa aku baik-baik saja. Karena aku tahu, bahwa untuk segala sesuatu yang terjadi didunia ini memiliki waktunya sendiri. Kalaupun aku pernah menangis untukmu bukan berarti aku tak bisa bangkit kembali. Percayalah, ini bukan pertama kalinya aku terpuruk dan merasakan hal semacam ini, namun ini sedikit berbeda karena suatu hal yang tak bisa aku tulis disini yang kamu sendiri pasti tahu apa itu. Aku sudah mulai terbiasa tanpa kamu, walau masih ada rasa yang begitu menyiksa batinku. Kepercayaan yang aku berikan hancur begitu saja.

Aku ingin kelak Allah menjawab doaku dan menyampaikan salamku untukmu. Terimakasih untuk lukanya hai laki-laki yang tak pernah lagi menganggapku ada. Tak tahukah kamu bahwa karma itu nyata? Karma itu ada dan hari pembalasan itu pasti terjadi.
Semoga nantinya tak ada seorangpun wanita yang hadir hanya untuk mengacak-acak hatimu kemudian pergi seperti yang kamu lakukan padaku. Dan sekalipun saat ini aku berteman sepi, setidaknya aku tak pernah sepecundang kamu dan mengingkari janji-janjiku. Aku tahu apa alasan perpisahan ini, walaupun kebohongan itu kamu simpan dengan rapi tapi aku tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin mimpiku waktu itu nyata dan petunjuk dari Allah.
Aku percaya Allah tak pernah tidur. Ada waktu Dia akan jawab doaku dan menyempurnakan kebahagiaanku.

Bila kamu membaca ini, ingatlah. Bahwa aku pernah jadi satu-satunya tempatmu pulang dan memberi dukungan saat kamu lelah. Aku pernah memberikan rasa bahagia dengan tawa candaku dalam setiap telponku untukmu. Walaupun tak seberapa lama, tapi aku pernah sanggup menguatkanmu. Aku pernah selalu mendokanmu dan selalu menyebut namamu dalam sujudku. Aku yang selalu membangunkanmu diwaktu kamu tertidur lelap, dan aku juga yang selalu mengingatkanmu untuk selalu sholat.

Pergilah sejauh kamu mau, aku tak akan pernah menghalangi. Bila bahagiamu bukan bersamaku, aku takkan mengemis perhatianmu dan memintamu untuk bertahan denganku. Karena bila bukan dari rusukmu aku berasal itu artinya aku tak perlu mati-matian memperjuangkan kebersamaanku denganmu.
Aku disini akan memperbaiki diriku dahulu dan takkan cepat mencari penggantimu.
Aku takkan mengulang kesalahan yang sama dengan terlalu mempercayai laki-laki seperti saat bersamamu.
Aku percaya Allah punya rencana yang lebih indah untukku.

Tugasku sekarang hanya memantaskan diriku, insyaAllah jika memang sudah saatnya Allah akan mempertemukan aku dan jodohku yang sebenarnya, pasti kami akan disatukan dengan caraNya secara hallal. Aamiin.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terimakasih Sudah Berkunjung